Pemanis buatan VS pemanis alami

Pemanis buatan VS pemanis alami merupakan tulisan untuk membandingkan antara gula yang dibuat dari bahan kimia dan gula yang berasal dari bahan alami.

Berikut adalah Top Ranking Pemanis dari Yang Terbaik :

  • 11.  Gula daun Stevia
  • 10. Madu
  • 9. Gula buah segar, Naqi (Nabidz dari Rendaman Kurma Tanpa Fermentasi)
    8. Gula batu
    7. Gula merah (kelapa/aren/nira)
    6. Gula Cassava (singkong)
    5. Gula pasir lokal
    4. Gula pasir dengan pemutih, rafinasi
    3. Natrium Siklamat
    2. Gula Sakarin
    1. HFCS (High Fructosa Corn Syrup)
    0. Aspartam

Ini ilmu tentang gula dan pemanis
>> Nomor 0,1,2,3 sekuat tenaga dihindari
>> Nomor 4,5 secukupnya saja, apalagi bila umur sudah kepala 3
>> Nomor 6-9 asal tidak ada penyimpangan
>> Nomor 10,11 bagi yang sudah paham pentingnya kesehatan sebaiknya ganti pemanis anda dengan Madu dan Stevia
>>HFCS adalah gula sintetis yang seolah-olah gula (diduga justru menyebabkan terjadinya diabetes)
>>Yang nomer 0, terburuk tapi justru paling royal kita berikan pada anak-anak.

Sedemikian dahsyatnya gula merasuki kehidupan kita, sebagian besar kita tidak menyadari bahwa gula adalah bahan kimia yang tidak alami. Tidak ada kristal seperti gula di alam. Gula adalah hasil pemurnian (refinasi) sari tebu atau bit setelah semua vitamin, mineral, protein, enzim dan nutrisi bermanfaat lainnya dibuang. Akibatnya, gula tidak mengandung aneka nutrisi dan serat yang terdapat pada karbohidrat lain yang lebih kompleks seperti biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran.

Kelebihan gula diubah menjadi lemak oleh tubuh. Menurut American Heart Foundation, “gula menyumbang nol nutrisi, tetapi menambahkan banyak kalori yang dapat menyebabkan berat badan ekstra, atau bahkan obesitas, sehingga mengurangi kesehatan jantung.” Gula juga dapat menyebabkan masalah gigi. Residu gula di gigi yang tidak disikat dengan benar mendorong perkembangbiakan bakteri alami yang menghasilkan asam, sehingga gigi mudah berlubang.

Selanjutnya, menurut sebagian ahli, gula secara perlahan menimbulkan kerusakan pankreas, kelenjar adrenal dan mengacaukan keseluruhan sistem endokrin.
Gula menyebabkan fluktuasi besar dalam glukosa darah.
Oleh karena itu, ahli gizi selalu merekomendasikan agar tidak mengsonsumsi gula berlebihan. Sayangnya, anjuran ini tampaknya tidak banyak diindahkan. Konsumsi gula per kapita Indonesia sekarang mencapai 12 kg per tahun, dengan tren terus meningkat. Per kapita berarti setiap pria, wanita, anak-anak dan bayi Indonesia rata-rata mengonsumsi 1 kg gula sebulan.

Sebagian orang mengonsumsi jauh di atas rata-rata, sebagian lainnya di bawah rata-rata.
Banyak orang kecanduan gula sehingga mengonsumsi gula melebihi yang mereka butuhkan. Kebanyakan orang juga tidak meremehkan asupan gula. Padahal, setiap 1 gram gula mengandung 4 kalori. Setangkup gula 20 gram akan langsung menambah 80 kalori ke tubuh Anda. Bahkan, tanpa kita sadari bayi-bayi kita juga sudah diajari untuk mencandu gula. Menurut sebuah penelitian oleh Universitas Calgary, lebih dari setengah dari semua produk makanan yang ditargetkan untuk balita dan bayi di Kanada memiliki terlalu banyak kalori yang berasal dari gula. Belum ada penelitian sejenis di Indonesia, namun kemungkinan hasilnya tidak banyak berbeda.

Pemanis buatan biasanya digunakan sebagai bahan pengganti gula. Padahal pemanis buatan ini justru tak kalah berbahayanya dengan gula jika dikonsumsi berlebihan. Simak berbagai bahaya dari pemanis buatan bagi kesehatan selengkapnya seperti yang dilansir dari Medical Dailyberikut ini:

1.Peningkatan berat badan
Sebuah penelitian pernah menyebutkan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam minuman bisa meningkatkan berat badan dalam jangka panjang. Sejak minuman dengan pemanis buatan marak dijual di pasaran, memang semakin tinggi pula kasus obesitas yang dialami oleh masyarakat.

2.Sindrom metabolisme
Sudah banyak penelitian yang mengaitkan antara konsumsi soda diet dan risiko sindrom metabolisme. Sindrom tersebut memiliki gejala hipertensi, kadar gula tinggi, lemak di pinggang, dan kadar kolesterol tak stabil.

3.Diabetes tipe 2
Penelitian dari Eropa memaparkan bahwa risiko diabetes tipe 2 meningkat dua kali lipat lebih tinggi akibat konsumsi minuman yang mengandung pemanis buatan. Bahkan konsumsi minuman sekali saja dalam sehari bisa meningkatkan risiko tersebut.

4.Hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Bahaya terakhir dari pemanis buatan bagi kesehatan adalah meningkatnya risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular, khususnya pada wanita.
Itulah berbagai risiko kesehatan dari konsumsi pemanis buatan berlebihan. Tidak mau mengalami hal serupa bukan? Maka dari itu mulai sekarang hentikan konsumsi makanan atau minuman dengan pemanis buatan berlebihan, salah satunya adalah soda.
Karena itu, kita perlu memperhatikan kandungan maksimal pemanis buatan yang masih diperbolehkan masuk ke dalam tubuh kita.

Misalnya Sakarin, yang memiliki tingkat “aman” sekitar 50-300 mg/kg,
Siklamat 500 mg/kg sampai 3 gr/kg,
Sorbitol 120 gr/kg-5 gr/kg,
sedangkan Aspartam sebenarnya sama sekali tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.
Secara fisik sebenarnya ada ciri-ciri yang mudah dikenali untuk membedakan minuman yang mengandung pemanis buatan dan pemanis alami, yaitu konsistensi minumannya yang lebih cair.
Misalnya, sirup yang mengandung pemanis buatan akan memiliki konsistensi yang lebih encer dibanding dengan yang mengandung pemanis alami.

Tingkat rasa manis pada pemanis buatan memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemanis alami.
Akibatnya, meskipun kadar pemanis buatan ini tergolong kecil namun rasa manisnya sudah tinggi sehingga harus diencerkan dengan air yang lebih banyak.
Jika Anda tidak ingin terlalu sering mengkonsumsi makanan yang mengandung pemanis buatan, coba amati perbedaan rasanya dengan pemanis alami.
Pemanis buatan memiliki Aftertaste (Rasa yg lidah kita tangkap setelah makanan/minuman kita telan) yang khas, antara lain:

1. Memiliki rasa manis yang pekat / sangat pekat
Pemanis buatan memiliki rasa manis yang berlebihan dan sangat pekat.
Bahkan tak jarang rasa manisnya cenderung membuat rasa eneg setelah mengkonsumsinya.
2. Ada rasa pahit yang tertinggal di lidah
Pemanis buatan yang terkandung dalam makanan atau minuman akan meninggalkan sisa rasa pahit dalam mulut. Hal ini sebabkan karena adanya kandungan bahan kimia sebagai bahan baku pemanis buatan tersebut.
3. Membuat tenggorokan menjadi kering
Salah satu ciri yang bisa membuat kita “menangkap basah” adanya pemanis buatan adalah tenggorokan yang terasa kering setelah menyantapnya.
Otomatis Anda pun akan merasakan haus yang amat sangat.
Jika tidak segera minum air putih, biasanya akan timbul serangan batuk dan penyakit tenggorokan lainnya.

Sejarah Pemanis Buatan
Pada masa lalu, Sakarin atau zat pemanis buatan ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ahli kimia asal Russia bernama Constantin Fahlberg (1850-1910). Suatu hari pada tahun 1879 setelah bekerja seharian di dalam laboratoriumnya, ia lupa untuk mencuci tangan.

Saccharin sakarin – Fahlberg ConstantinHari itu dia “bermain-main” dengan bahan campuran arang dan tembakau dalam rangka meneliti kegunaannya.

Saat tiba makan malam di rumah, dia menyadari bahwa kue rolls yang dia santap sebagai makan malam berasa lebih manis dan lain dari biasanya.
Ditanyakan kepada istrinya apakah dia memberikan gula ke kuenya, dan dijawab tidak oleh sang istri. Kue-kue rolls tersebut berasa normal seperti biasa bagi lidah istrinya.
Lalu Fahlberg menyadari bahwa rasa manis tersebut berasal dari tangannya, lalu keesokan harinya dia kembali ke laboratoriumnya dan mulai meneliti lebih lanjut sampai akhirnya menemukan Sakarin.
Kini sakarin diklaim dapat membahayakan organ tubuh karena mengandung zat yang dapat memicu dan meyebabkan kanker.
Namun pada kenyataanya bahan kimia ini sudah tersebar di hampir setiap makanan siap saji seantero dunia atau lebih dari 6000 merk makanan dan minuman, bahkan juga dicampur pada gula organik alami.

Bahaya Makanan & Minuman Jajanan Peracun Anak
Nyaris 1 juta dolar AS uang riset digelontorkan, sementara lebih dari 1.900 ekor tikus dilibatkan. European Ramazzini Foundation on Oncology and Enviromental, lembaga riset terkemuka di Italia itu, ingin membuktikan, apakah betul Aspartam sejenis pemanis buatan itu berbahaya bagi kesehatan.
Ramazzini tidak keliru. Bahkan, fakta yang mereka kantongi jauh lebih lebih mengerikan ratusan tikus telah siap menunggu ajal. Aspartam, pemanis nonkalori yang memiliki tingkat kemanisan 200 kali gula itu, membikin tikus-tikus tadi langsung dihajar kanker mematikan.

Riset yang digelar pertengahan 2005 lalu itu membuat Uni Eropa kian yakin dengan keputusan mereka melarang penggunaan pemanis buatan pada produk makanan. Jajanan anak-anak, terutama. Jepang, Malaysia, Brunei, Vietnam, langsung mengekor langkah Uni Eropa. Mereka haramkan pula Siklamat, jenis pemanis buatan yang diduga dapat memicu kanker. Bagaimana dengan Indonesia?
Alih-alih dilarang beredar, produk-produk ini sejak lama menjadi “kawan akrab” anak-anak SD. Mudah ditemui di warung-warung, bahkan dijajakan secara besar-besaran di supermarket. Survei Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) sepanjang Juni hingga Juli di sejumlah titik di DKI Jakarta membuktikan hal itu.

Madu Pemanis Alami Terbaik > Kembali Ke Alam, Kembali Ke Sunnah Rasulullah
Madu merupakan produk berharga hasil olahan lebah yang berasal dari sari bunga, adalah bahan pemanis utama di zaman kuno, jauh sebelum gula tebu dikenal. Ini merupakan cairan manis yang dibuat oleh lebah pekerja dari nektar yang disekresikan oleh tanaman tertentu yang biasanya menghasilkan bunga, seperti thyme, rosemary, alfalfa, maupun clover.

Pada zaman dahulu, madu sempat dianggap sebagai zat magis dan barang siapa yang meminumnya, akan memperoleh hidup abadi layaknya para dewa. Dionysus, dewa anggur dalam mitologi Yunani kuno, dikisahkan telah menemukan bahwa sungai yang terdapat di Gunung Parnassus dialiri oleh madu. Dan bangsa Romawi kuno memakan madu sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru mereka.

Museum Pertanian Kanada menggelar sebuah pameran virtual tentang lebah dan penyerbukan, yang ternyata sangat dibutuhkan untuk proses penyerbukan bagi sekitar sepertiga dari tanaman yang menjadi bahan makanan kita. Tanaman tertentu, seperti apel, pir, dan blueberry adalah contoh tanaman yang sangat tergantung pada lebah untuk proses penyerbukan.

Pameran itu menunjukkan kepada kita tentang berbagai produk lebah seperti lilin, royal jelly, bee pollen, dan propolis. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok kuno, menurut catatan dari layar virtual, royal jelly dikatakan berguna untuk meningkatkan energi dan membuat awet muda. Kemudian propolis, dikatakan memiliki sifat antimikroba, yang membantu menjaga sarang lebah tetap steril.

Tanaman Stevia pengganti gula yang sehat

(Oleh Rizki Pratiwi  Data medis direview oleh dr. Le Thi My Duyen)

Apakah Anda pernah mendengar bahan makanan sebagai pengganti gula? Ada berbagai bahan pengganti gula, yaitu yang termasuk kategori pemanis alami, alkohol gula, dan pemanis buatan. Stevia sendiri tidak termasuk ke dalam ketiga kategori tersebut. Tanaman stevia dikategorikan sebagai pemanis baru (novel sweeteners). Mengapa demikian? Apakah dengan begitu, stevia mengandung banyak manfaat dibanding pemanis lainnya?

Apa itu Stevia ?

Stevia diekstraksi dari daun tanaman yang masuk ke dalam famili Ateraceae, sering dikaitkan dengan tumbuhan daisy atau ragweed. Di Paraguay dan Brasil, sudah ratusan tahun, orang-orang menggunakan daun dari tanaman Stevia rebaudiana (Bertoni) untuk memaniskan makanan. Bahkan stevia digunakan untuk pengobatan tradisional untuk mengobati masalah perut, luka bakar, dan terkadang dipakai sebagai kontrasepsi di negara tersebut.

Berikut ini adalah beberapa macam tipe stevia:

Stevia dengan daun hijau.

  • Diproses dari semua tipe stevia
  • Unik karena daun hijau stevia tidak mengandung kalori atau gula, tapi rasanya manis
  • Digunakan di Jepang dan Amerika Selatan selama ribuan tahun sebagai pemanis alami dan pengobatan
  • Memiliki rasa yang sangat manis, 30-40 kali lebih manis dibandingkan gula
  • Memiliki manfaat yang dikaitkan dengan level gula darah, kanker, kolesterol, tekanan darah tinggi
  • Cara mengonsumsinya yang baik adalah dengan mengonsumsi secukupnya

Ekstrak Stevia.

  • Kebanyakan produk mengekstraksi bagian manis dan sedikit pahit (rebaudioside) dari stevia. Tidak ada manfaat kesehatan yang ditemukan pada stevioside (daun stevia yang manis).
  • Tidak memiliki kalori atau gula
  • Memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan stevia yang berasal dari daunnya
  • Bahkan 200 kali lebih manis dibandingkan dengan gula.

Apakah tanaman Stevia aman yang dikonsumsikan ?

Kebanyakan orang merasa baik-baik saja setelah mengonsumsi stevia, namun perlu ditekankan bahwa reaksi stevia pada setiap orang akan berbeda-beda. Manfaat dan efek dari mengonsumsi stevia tergantung pada jenis stevia apa yang Anda konsumsi. Ketika pemanis rendah kalori telah mendapat persetujuan dari BPOM, berarti pemanis tersebut aman untuk digunakan.  Namun, tidak semua stevia dibuat dengan seimbang. Ada beberapa jenis stevia yang dibuat dengan lebih banyak proses kimianya dibandingkan dengan kandungan stevianya. Pun dengan dampak negatifnya, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan dampak negatif yang benar-benar disebabkan oleh stevia.

Stevia tidak memiliki kalori dan bersifat 200 kali lebih manis daripada gula dalam takaran yang sama. Karena tidak ada kalori pada pengganti gula ini, jelas kita akan berasumsi bahwa pemanis ini baik digunakan untuk diet. Namun, ada beberapa penelitian yang menunjukkan, mengganti gula dengan pemanis buatan atau pemanis rendah kalori lainnya tidak otomatis memudahkan Anda untuk menurunkan berat badan.

Berdasarkan kajian dalam International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders, penelitian pada tahun 2004 pada tikus menunjukkan pemanis rendah kalori membuat binatang menjadi makan yang berlebihan. Seorang penulis penelitian kemudian berpendapat orang yang menggunakan pemanis buatan dapat mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelebihan gula, seperti sindrom metabolik. Sindrom ini dapat memicu diabetes.

Perlu Anda ketahui, adanya pendapat lain yang mengungkapkan bahwa stevia tidak memiliki efek samping pada masalah metabolisme jangka pendek. Bahkan penelitian pada tahun 2010, yang melibatkan 12 orang yang mengidap obesitas dan 19 orang yang memiliki badan kurus, tidak ditemukan perilaku makan yang berlebihan. Gula darah setelah memakan yang mengandung stevia makan juga lebih rendah dibandingkan dengan makanan yang mengandung gula. Stevia juga mampu membuat kadar insulin menurun dibandingkan dengan pemanis buatan lain, seperti aspartame dan sukrosa.

Apa saja manfaat dari Stevia ?

Berdasarkan situs draxe.com, terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kemampuan stevia sebagai pengobatan alami. Tanaman tersebut  dapat membawa keuntungan untuk proses penyembuhan. Apa saja klaim manfaat tersebut?

  • Memiliki kemampuan antikanker. Sebuah jurnal Food Chemistry yang dipublikasikan studi Kroasia menunjukkan stevia diduga memiliki manfaat potensial untuk pengobatan alami dari kanker usus, digabungkan dengan daun blackberry.
  • Baik untuk diabetes. Menggunakan stevia dibandingkan gula akan sangat membantu untuk penderita diabetes. Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan Journal of Dietary Supplement, ada evaluasi tentang bagaimana stevia berpengaruh pada tikus yang terkena diabetes, lalu ditemukan tikus yang diberi sekitar 200 dan 500 mg setiap hari mengalami penurunan level gula darah, trigliserida,dan alkali fosfatase. Penelitian pada manusia juga menunjukkan mengonsumsi stevia sebelum makan dapat mengurangi level gula darah setelah makan dan insulin.
  • Menurunkan tekanan darah tinggi. Glikosida pada ektrak stevia ditemukan bisa melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan pengeluaran natrium, kedua hal tersebut dapat membantu dalam menjaga tekanan darah pada level yang sehat.

Memang banyak ditemukan berbagai macam manfaat dari stevia, tapi untuk mengonsumsinya, sebaiknya secukupnya saja. Tetap hindari mengonsumsinya secara berlebihan.

Artikel ini berkaitan dengan dengan halaman ini > Produk Herbal Ampuh, dan website > halalmart-bandung.com

pemanis buatan vs pemanis alami – pemanis buatan vs pemanis alami