Sumber Penyakit Menurut Al-Quran, Al-Hadits dan Sains

Penyakit Menurut Sains

Dengan merujuk pada teori ilmu kesehatan kontemporer, sumber penyakit berasal dari empat macam, yakni: toksin (racun) yang tertimbun dalam tubuh, ketidakseimbangan suhu badan, ketidakseimbangan angin, dan ketidakseimbangan pikiran. Racun dalam tubuh manusia berasal dari bahan-bahan kimia dalam kadar yang berlebihan yang tercampur dalam makanan dan minuman seperti bahan pewarna, bahan pengawet, dan lainnya yang tidak diperlukan tubuh.

Ketidakseimbangan suhu badan disebabkan oleh sistem pengeluaran urin yang bermasalah. Ketidakseimbangan angin menyebabkan masalah di dalam usus besar dan matinya bakteri positif serta kekurangan enzim dalam tubuh. Dan ketidakseimbangan pikiran (stress) menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon steroid yang melemahkan sistem imunitas. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa penyakit bukan bersumber dari kuman, virus atau lain, tetapi lebih disebabkan dari kelemahan sistem daya tahan tubuh manusia (immunity).

Apabila imunitas lemah atau terganggu, maka kuman (bakteri), atau virus mudah menyerang tubuh. Berdasarkan tempatnya, rumah sakit pun dapat menjadi sumber penyakit yang disebut nosocomial. Kualitas bakteri di rumah sakit bisa lebih ganas dibanding tempat-tempat fasilitas umum lainnya karena sebelumnya telah berkompetisi secara alami dengan bakteri lainnya, sehingga memiliki keunggulan dan berhasil hidup mengalahkan bakteri lain.

Proses pengobatan atau penyembuhan penderita penyakit nosocomial tidak bisa dilakukan seperti pasien biasa, melainkan memerlukan proses perawatan khusus. Para dokter, perawat, bidan dan paramedis yang bertugas di rumah sakit tergolong komunitas profesi yang sangat rawan tertular penyakit. Anggota masyarakat pun berpotensi terkena penyakit nosocomial bila menjenguk pasien yang tengah dirawat inap di rumah sakit.

Lemari pendingin (kulkas) yang terletak di dalam rumah pun bisa menjadi sumber penyakit. Makanan yang tersimpan di dalam kulkas bisa di tumbuhi jamur baik sebagian maupun seluruh permukaan makanan dan bahan makanan. Jamur dapat menyebabkan reaksi alergi dan masalah pada pernapasan. Beberapa jenis jamur menghasilkan mikotoksin yaitu zat beracun yang dapat membuat orang sakit.

Makanan yang mengandung protein pun dapat menjadi sumber penyakit. Padahal selama ini protein diperlukan tubuh untuk membangun otot, jaringan kulit, rambut, kuku dan bagian tubuh lainnya. Idealnya seseorang membutuhkan 0,72 gram protein untuk setiap kilogram berat badan. Jika berat badan seseorang sebesar 80 kg, maka protein yang dibutuhkan sekitar 57 gram.

Menurut Gail Butterfield, pakar nutrisi dari Stanford University dalam Journal of the American Geriatrics Society menyebutkan bahwa jumlah protein yang lebih dari 30 persen kebutuhan kalori tubuh bisa membahayakan kesehatan. Tidak seperti sel-sel lemak yang bisa disimpan dalam jaringan lemak jika kelebihan, tubuh tidak memiliki tempat untuk menyimpan kelebihan protein. Kebanyakan protein akan diubah oleh tubuh menjadi lemak terlebih dahulu untuk bisa disimpan.

Disinilah letak bahayanya kelebihan protein. Gail Butterfield yang juga menjabat Direktur Nutrition Studies at The Palo Alto Veterans Administration Medical Center, mengatakan bahwa kelebihan protein bisa menghasilkan senyawa keton yang bersifat racun. Senyawa tersebut akan menyebabkan ginjal bekerja lebih berat untuk mengeluarkannya dari tubuh. Alhasil, ginjal akan membutuhkan lebih banyak air dan dari situlah dehidrasi muncul. Jika tubuh sudah dehidrasi, berat badan bisa berkurang karena massa otot dan tulang berkurang. Akibatnya, timbul risiko osteoporosis.

Dehidrasi juga menyebabkan ginjal menjadi stres dan efeknya akan berdampak pada jantung. Senyawa keton dan dehidrasi juga menyebabkan tubuh menjadi lemas, pusing, bau mulut dan lainnya. Protein juga bisa menyebabkan reaksi alergi, seperti dermatitis topic, kaligata, penyakit kolagen, colitis ulserativa, dan penyakit crohn. Protein hewani yang berlebihan dapat merusak DNA dan mengubah sel-sel normal menjadi sel kanker.

Penyakit Menurut Al-Hadits

Dari Qatadah dari Anas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri. Qatadah lantas bertanya kepada Anas, “Bagaimana dengan makan sambil berdiri?” “Itu lebih parah dan lebih buruk.” (H.R. Muslim)

Pada masa kini, para dokter mengatakan bahwa tubuh manusia ketika berdiri maka sistem saraf dan sistem otot bekerja secara efektif. Sebaliknya pada saat duduk, kedua sistem ini bekerja dalam keadaan fokus. Dengan demikian, sangat tidak tepat jika seseorang makan dan minum dalam posisi berdiri. Para dokter memantau kondisi-kondisi dimana terjadi kasus gangguan dalam sistem pencernaan, banyak obat-obatan yang tidak mampu mengobatinya. Namun pasien yang berhenti makan dan minum dalam posisi berdiri, serta mulai makan dalam posisi duduk maka gangguan pencernaan ini hilang!

Dari Umar ibn Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Makanlah dan minumlah, berpakaian, dan bersedekahlah, tanpa berlebihan dan tidak sombong.” (H.R. Ahmad)

Dari Karimah Al-Miqdad ibn Ma’di Kariba radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah/bejana yang lebih buruk dari perutnya, sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup meneguhkan tulang rusuknya. Kalaupun dia harus mengisinya, maka 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman, dan 1/3 untuk bernafas.” (H.R. Muslim, Tirmidzi dan Ibn Majah)

Ibn Sina rahimahullah menjelaskan bahwa berkah dan hikmah dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan masuk ke dalam perut yang sudah penuh dengan makanan. Barangsiapa sedikit makan dan minumnya, maka akan sedikit pula tidurnnya. Barangsiapa sedikit tidurnya, maka akan terlihat jelas dan nyata berkah pada umur dan waktunya. Adapula hadits yang melarang untuk menghembuskan napas (meniup-niup) makanan atau minuman, lebih lengkapnya silahkan baca  DISINI.

Penyakit Menurut Al-Qur’an

Dalam Al-Quran, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan penyakit sekaligus metode penyembuhan penyakit itu. Suatu penyakit dapat dinyatakan sembuh atas izin dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dengan dua macam terapi sebagai proses penyembuhan yakni terapi fisik dan non fisik (spiritual).

Hal ini karena penyakit bukan hanya berupa penyakit fisik namun juga penyakit non fisik yang tersembunyi seperti fasiq, kemunafikan, keragu-raguan, dusta dan tidak beriman.

Menurut Marios Loukas, Yousuf Saad, dan kawan-kawannya dalam paper berjudul “The Heart and cardiovascular system in the Quran and Hadeeth”; Al-Qur’an dan Al-Hadits membagi beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), dan penyakit mental.

Obat yang manjur menurut Al-Qur’an adalah madu yang mengandung gula, vitamin dan antibiotik. Untuk mencegah berbagai penyakit, Al-Qur’an melarang keras mengkonsumsi daging babi, bangkai, darah dan binatang yang disembelih tidak dengan menyebut nama ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Abd Al-Aziz Al-Khalidi membagi dua obat (syifa’) penyembuh penyakit yakni obat hissi untuk menyembuhkan penyakit fisik dan obat ma’nawi untuk penyakit non fisik (ruh dan kalbu manusia). Obat hissi seperti berobat dengan air, madu, buah-buahan yang disebutkan dalam Al-Qur’an; sedangkan obat ma’nawi seperti do’a-do’a dan isi kandungan dalam Al-Qur’an.

Pembagian atas dua kategori obat didasarkan pada asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu, yaitu jasmani dan ruhani. Penyakit yang terjadi pada jasmani harus ditempuh melalui sunnah pengobatan hissin, bukan dengan sunnah pengobatan ma’nawi seperti berdo’a.

Tanpa menempuh sunnah-Nya, maka penyakit itu tidak akan sembuh. Sementara penyakit ruhani yang berhubungan dengan tingkah laku manusia adalah produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani) dimana aspek ruhani menjadi esensi kepribadian manusia sedangkan aspek jasmani menjadi alat aktualisasi.

Penyakit jasmani yang disebabkan oleh penyakit ruhani cara pengobatannya dengan sunnah pengobatan ma’nawi. ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisā’ 4 : 111)

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan ALLAH memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab ALLAH) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain ALLAH.” (Q.S. Asy-Syūra 42: 30-31)

Dengan demikian dapat diketahui bahwa penyakit merupakan akibat dari perbuatan manusia itu sendiri melalui tingkah laku sehari-hari yang tidak terpuji (dosa) di hadapan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Perilaku yang tidak terpuji tersebut berupa akhlak yang kurang baik tersebut sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin juga sudah belasan bahkan puluhan tahun, sehingga akhirnya ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan suatu musibah berupa penyakit sebagai pengingat bagi ummat-Nya agar segera kembali ke jalan-Nya.

Untuk mendapatkan kesembuhan, maka manusia harus kembali kepada satu-satunya pelindung dan penolong, yakni ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Sunnatullah dan Hasil Penelitian

Bahkan dalam hal yang sebenarnya sudah sunnatullah seperti makan dan minum, jika berlebihan juga akan berdampak tidak baik bagi tubuh. Para peneliti dari Finlandia menemukan bahwa setiap orang yang sekedar memakan makanan yang bergizi dan tidak berlebih-lebihan, berdasarkan pada rasio tertentu khususnya gizi alami makanan, akan memberikan kontribusi dalam mengurangi proporsi kolesterol dan menurunkan tekanan darah, dimana kedua hal tersebut merupakan penyebab utama kematian mendadak.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’rāf 7 : 31)

Para ilmuwan ahli gizi masa kini berpendapat bahwa hal terbaik yang dapat digunakan sebagai obat dan terapi agar terhindar dari penyakit adalah tidak berlebih-lebihan dalam hal makanan dan minuman! Wallahu a’lam bishshawab

. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاهْدِنِي ، وَعَافِنِي ، وَارْزُقْنِي

(Ya ALLAH, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rizqi kepadaku) . آمِيْنَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

Catatan: Nosocomial adalah infeksi yang terjadi ketika penderita dirawat di rumah sakit.

Sumber :  Berbagai sumber.